
Karena krisis keuangan global dampaknya sudah mempengaruhi sendi-sendi perekonomian Indonesia secara umum, klub-klub peserta Liga Super Liga Indonesia (LSI), tak terkecuali Persib Bandung, menghadapi sebuah dilema besar. Keharusan mereka untuk bisa mandiri pun diragukan bisa terlaksana.
Paling tidak, pandangan tersebut diungkapkan seorang praktisi ekonomi, H. Hilman Purakusumah. "Dalam kondisi ekonomi global down turn (merosot, red) seperti sekarang, pelaku sepak bola Indonesia, terutama peserta LSI menghadapi sebuah dilema," kata Hilman ketika dihubungi "GM", Senin (5/1).
Dijelaskan Hilman, dilema yang dihadapi klub-klub peserta LSI, termasuk Persib itu adalah, ketika klub-klub itu harus mengubah statusnya menjadi profesional murni, sementara di sisi lain, situasi ekonomi global tidak mendukungnya. "Sekarang klub harus berubah menjadi PT. Klub-klub itu harus dikelola seperti perusahaan pada umumnya. Tapi di sisi lain, justru para pelaku bisnis tengah berbenah untuk menyiasati dan menghadapi krisis perekonomian global yang mulai berdampak di Indonesia," papar Hilman.
Selain karena faktor ekonomi, Hilman juga masih meragukan kemampuan klub-klub peserta LSI untuk hidup mandiri lantaran dunia sepak bola di Indonesia belum menjadi sebuah industri. "Sepanjang sepak bola di Indonesia belum bisa dijadikan industri seperti layaknya industri lainnya, sulit klub sepak bola dikelola seperti perusahaan bisnis pada umumnya. Saat ini dapat dikatakan tidak ada satu peserta LSI yang benar-benar mandiri, yang dalam hal ini pengelolaannya berasal dari sepak bola untuk sepak bola," paparnya.
Selasa, 06 Januari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)









0 komentar:
Posting Komentar