Rabu, 17 Desember 2008

Emosi Jangan Terpancing


Pelatih Persib Bandung, Jaya Hartono meminta kepada seluruh pemainnya agar tidak terpancing permainan keras yang hampir pasti bakal diperagakan pemain PSDS Deli Serdang pada leg kedua babak "48 Besar" Copa Dji Sam Soe Indonesia (CDSSI) 2008-2009 di Stadion Baharoedin Siregar, Lubuk Pakam, Kamis (18/12). Sebab kalau sampai terpancing, apalagi sampai melibatkan emosi, Persib bisa habis.

"Di awal pertandingan, PSDS pasti akan memancing emosi para pemain Persib dengan melakukan pressing keras. Kalau sampai terpancing, itulah yang mereka harapkan, karena permainan teknik pemain kita bakal hilang kalau emosional," kata Jaya menjelang keberangkatan ke Lubuk Pakam, Senin (15/12) malam.

Dikatakan Jaya, karena tidak banyak memiliki pemain yang berkarakter keras, Eka Ramdani dan kawan-kawan sebaiknya tidak meladeni permainan keras PSDS. Caranya, kata Jaya, para pemainnya tidak boleh terlalu berlama-lama menguasai bola.

"Benturan-benturan yang sengaja dibuat pemain PSDS tujuannya untuk memancing emosi pemain kita. Untuk menghindari benturan itu, pemain kita jangan berlama-lama dengan bola. Sebisa mungkin bola harus terus bergerak cepat. Dengan begitu, pemain PSDS tidak akan sempat mengintimidasi pemain Persib," papar mantan pelatih Persik Kediri, Persiba Balikpapan, dan Deltras Sidoarjo ini.

Menurut Jaya, pada pertandingan pertama yang dimenangkan Persib dengan skor 2-1, strategi PSDS semacam itu sudah diperagakannya. "Pada saat bermain di kandangnya sendiri, biasanya permainan PSDS akan lebih keras. Itu yang harus diwaspadai," katanya.

Keluhkan karakter

Mengenai strategi menghindari permainan keras PSDS ini, Jaya beralasan, karena Persib tidak memiliki banyak pemain berkarakter keras. Ia mencatat baru Hariono dan Waluyo, dua anak asuhnya yang sengaja diboyong dari Deltras yang memiliki karakter keras.

Pada awalnya, tujuan Jaya memboyong Hariono dan Waluyo adalah untuk mengubah gaya permainan Persib yang selama ini terkenal hanya mengandalkan teknik. "Ternyata sulit mengubah gaya permainan Persib itu. Kita tidak punya pemain yang berkarakter keras, terutama di sektor belakang," ujar Jaya.

Menurut Jaya, karakter permainan keras sebenarnya menjadi hal yang wajib dimiliki pemain belakang. Dengan begitu, katanya, para pemain depan lawan tidak bisa leluasa menguasai bola. "Paling tidak, kalau pemain belakang punya karakter permainan keras, pemain depan lawan pasti akan berpikir dua kali berlama-lama dengan bola. Tapi, lihat apa yang dilakukan dua pemain asing PSDS pada saat menghadapi Persib, mereka sangat leluasa bergerak. Ini karena pressing pemain belakang kita sangat longgar," paparnya.

Di luar itu, Jaya juga sempat mengeluhkan "kemanjaan" sejumlah pemain Persib dalam menjalani latihan. "Dalam setiap latihan, jarang sekali pemain yang berlatih seratus persen. Paling banter cuma 70 persen," katanya.

0 komentar:

Caution : Wajib diklik

Followers

Caution : Wajib diklik