
Setelah menyelesaikan putaran pertama Liga Super Indonesia (LSI) 2008-2009, produktivitas gol Persib dinilai tetap menjanjikan. Tapi sayang, produktivitas gol yang mengesankan itu masih disertai tingkat kebobolan yang tetap tinggi.
"Betul, produktivitas gol Persib pada putaran pertama ini memang cukup tinggi. Sedangkan untuk tingkat kebobolan, meski kita mulai bisa menekannya dalam beberapa pertandingan terakhir putaran pertama, namun secara keseluruhan tetap tinggi karena masih berada di atas angka satu per pertandingan," kata pelatih kiper Persib, Anwar Sanusi.
Berdasarkan catatan "GM", hingga akhir putaran pertama, para pemain Persib berhasil menjaringkan 29 gol dari 17 laga yang dimainkannya. Itu artinya, tingkat produktivitas gol Persib berada di angka 1,70 per pertandingan. Angka itu menyamai produktivitas gol pada Liga Indonesia (LI) XIII/2007, yang hingga saat ini tercatat sebagai rekor produktivitas gol tertinggi Persib pada putaran pertama sepanjang sejarah perhelatan LI yang mulai digulirkan pada tahun 1994.
Dari 29 gol yang dilesakkan Persib, meski gagal mencetak gol dalam 6 laga terakhir putaran pertama, Rafael Alves Bastos masih menjadi penyumbang gol terbanyak dengan koleksi 8 gol. Di belakang striker asal Brasil itu ada nama Hilton Moriera (6 gol), Lorenzo Cabanas (5), Nova Arianto, Airlangga, Zaenal Arief (2), Eka Ramdani, Fabio Lopes Alcantara, Salim Alaydrus, dan Nyeck Nyobe Georges Clement (1).
Di bawah nol koma
Away --sapaan akrab Anwar Sanusi-- juga sepakat kalau tingkat kebobolan Persib sepanjang putaran pertama masih tinggi. Menurutnya, jika sebuah tim memiliki rata-rata kebobolan di atas 1 gol per pertandingan, itu artinya tingkat kebobolan masih tinggi.
"Rata-rata kebobolan idealnya berada di bawah nol koma per pertandingan, seperti yang terjadi pada musim lalu (LI XIII/2007, red). Kalau seperti sekarang (rata-rata 1,12 per pertandingan, red), saya nilai masih tinggi," kata pelatih yang bertugas merekap statistik setiap pertandingan Persib pada LSI 2008-2009 ini.
Kendati demikian, Away enggan memberikan bocoran penyebab masih tingginya tingkat kebobolan Persib itu. "Yang pasti, saya sangat puas dengan kinerja dua penjaga gawang yang diturunkan sepanjang putaran pertama. Saya tidak tahu problemnya di sektor mana," kata mantan penjaga gawang yang mengawal gawang Persib pada final LI I/1994-1995 ini.
Tapi, menurut Direktur Teknik Persib, Risnandar Soendoro, tingginya tingkat kebobolan Persib ini disebabkan masih adanya celah di sektor pertahanan Persib, terutama pada diri Nova Arianto dan Nyeck Nyobe Georges Clement. "Sebagai seorang stoper, mereka masih mengalami masalah dalam hal penjagaan lawan. Meski pada akhir putaran pertama ada sedikit perbaikan, namun tetap harus dievaluasi dan diperbaiki pada putaran kedua nanti," katanya.
Kamis, 20 November 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)









0 komentar:
Posting Komentar