Bagi Mohamad Hermawan, profesionalisme adalah hal yang tidak bisa ditawar. Profesionalisme juga yang dipegang lelaki yang akrab dipanggil Kang Wawang ini setiap kali diberi kepercayaan atau menjalankan tugas yang diembannya.
Profesionalisme juga yang jadi kunci sukses lelaki kelahiran 3 April 1956 ini ketika diberi tugas sebagai seksi tiket alias tiketing di Panpel Persib. Tidak tanggung-tanggung, suami dari Dra Hanny Dahliani MM dan ayah dari Giana Virgiani Hermawan ini sudah lima tahun menjalani dan dipercaya mengomandani seksi tiket Panpel Persib.
"Kuncinya adalah profesional. Dengan bekerja profesional saya menjaga dan menjalankan kepercayaan yang sudah diberikan kepada saya," tutur Kang Wawang kepada Tribun.
Dengan menjaga profesinalisme dalam bekerja, hasilnya itu tadi, Kang Wawang mendapatkan kepercayaan untuk terus menjaga nakhoda seksi tiket yang sudah dilakoninya dalam lima perhelatan kompetisi yang dilakoni Persib.
"Empat tahun saya menjadi seksi tiket Panpel Persib di Liga Indonesia. Sekarang di Liga Super 2008, saya kembali dipercaya jadi bidang tiketing dan keuangan Panpel Persib," ucap lelaki yang menekuni olahraga bulutangkis ini.
Terus menjalani tugas sebagai seksi tiket, tidak bosan Kang?
"Kalau tahun depan saya kembali disodori tugas yang sama, saya akan menerimanya. Saya akan menjalani tugas tersebut dengan profesional dan bertanggung jawab," ucap Wawang memberi garansi.
Disinggung soal profesionalisme yang sudah jadi bagian hidupnya, Kang Wawang menerangkan hal tersebut bukan hanya berarti dia bekerja sepenuh hati dan bertanggung jawab. "Profesionalisme juga berarti saya dibayar untuk kerja saya," kata lelaki yang sehari-hari bekerja sebagai pegawai swasta yang bergerak di bidang kontruksi ini. (daf)
Siap Berdiskusi dengan Bobotoh
Walaupun sudah bekerja profesional dan berusaha untuk mencapai hasil sempurna, Mohamad "Wawang" Hermawan mengaku masih ada banyak kekurangan ketika mengurus soal tiketing di Panpel Persib. Dengan alasan itu, Kang Wawang siap berdiskusi dan meminta bantuan dari banyak pihak termasuk dari bobotoh.
"Misalnya untuk melahirkan bagaimana distribusi tiket bisa lancar dan mudah untuk semua pihak, saya siap meminta saran dari bobotoh. Pokonya saya siap berdiskusi, misalnya soal percaloan yang dipertanyakan bobotoh," papar Wawang.
Wawang mengakui, soal percaloan belum bisa dihilangkan bahkan ketika Persib menjalani Liga Super yang Panpelnya tidak dipegang "orang" Persib. "Namun soal calo dan lainnya yang bersinggungan dengan tiketing, harus diselesaikan dengan baik. Artinya masalah itu bisa diatasi tanpa merugikan pihak tertentu," tutur Kang Wawang yang sejak pindah ke Stadion Jalak Harupat dirinya tidak perlu lagi keliling stadion untuk mengantisipasi kebocoran tiket.
"Dulu ketika Persib selalu main di Siliwangi, saya punya tugas keliling stadion," kenang Wawang sambil menyebutkan setelah pindah ke Jalak Harupat dan diberlakukan tiket elektrinik alias E-Card, hasil penjualan tiket menunjukkan hasil yang bagus.
Selasa, 18 November 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)









0 komentar:
Posting Komentar